“Menyelaraskan Hati, Lisan, dan Perbuatan dalam Bersyukur”.

perkenalkan nama saya wahyu ramadhan PH Mahasiswa Telkom university 2014 mengulang mata kuliah agama nim saya 1302144008.

Taukah kalian, bahwa bersyukur merupakan ungkapan dari 3 komponen, yaitu Hati, Lisan, dan Perbuatan. Oleh sebab itulah, konsisten ketiganya sangat penting untuk mengokohkan kebiasaan bersyukur. Hati harus menguatkan lisan. Lisan dan hati pun harus sejalan dengan perbuatan. Ungkapan syukur yang terpatri dalam hati harus sesegera mungkin diakui oleh lisan. Namun, tidak harus berhenti di situ saja, perbuatan pun harus mencerminkan rasa syukur dari hati dan lisan itu.
Permasalahannnya adalah terkadang kita sudah bersyukur kepada Allah Swt melalui hati dan lisan, tetapi dalam praktiknya amal kita jauh dari rasa syukur. Jadi, bersyukur itu tidak semata matanya mengalunkan ucapan hamdalah, tetapi syukur adalah ungkapan yang nyata. Selain hati dan lisan yang berucap syukur, perbuatan kita pun harus secara serentak turut bersyukur.

1. Syukur dengan hati (Syukur Qalbi)
Bersyukur (Menghargai Nikmat) dengan hati lebih sulit dari pada bersyukur dengan lisan atau ucapan.
Ibnul Qayyim al-jauziah mengistilahkannya dengan “Al-I’tirafubiha bathinan” (Mengakui Nikmat tersebut secara batin). Maksudnya, Hatinya benar benar mengakui bahwa nikmat itu semata-mata pemberian.
Syukur dengan hati dilakukan dengan menyadari sepenuhnya bahwa nikmat yang diperoleh semata mata karna Anugrah dan kemurahan Ilahi. Bahkan, jika kita selalu bersyukur dengan hati, saat ditimpa malapetaka atau musibah sekalipun, Kita akan memuji keagungan Allah. Segala musibah yang menimpa akan di anggap sebagai cobaan yang memiliki hikmah tersendiri. Selain itu, kita akan membandingkan dengan musibah orang lain yang lebih besar dari kita.

2. Syukur dengan Ucapan
Syukur dengan lidah adalah mengakui dengan ucapan bahwa sumber nikmat yang kita rasakan merupakan Karunia Allah Swt. Sambil memuji-Nya Rasulullah Saw telah mengajarkan cara bersyukur dengan lisan seperti yang sudah tertuang dalam Al-Quran maupun Sunnah. Salah satu cara ucapan syukur yang di ajarkan dalam Al-Quran dan Hadits adalah alhamdulillah. Hamd atau pujian disampaikan secara lisan kepada yang di puji, walaupun ia tidak memberikan apapun kepada kita. Kata al pada al-hamdulillah oleh pakar pakar bahasa disebut “al” lil-istigraq yang mengandung arti “keseluruhan”. Sehingga kata al-hamdu yang ditunjukan Allah mengandung arti bahwa yang paling berhak menerima segala pujian adalah Allah Swt bahkan seluruh pujian harus tertuju dan bermuara kepada-Nya.

 

  1. Syukur dengan Seluruh Anggota Tubuh
    Setelah mensyukuri semua nikmat dan anugerah dengan menyadari sepenuhnya bahwa nikmat yang diperoleh adalah semata mata karena Anugerah dan kemurahan Ilahi dan di ungkapkan melalui ucapan yang tulus dan ikhlas, kita harus melanjutkan rasa syukur dengan perbuatan yang menjadi gambaran sikap yang sesungguhnya dengan memanfaatkan anugerah yang diperoleh sesuai dengan tujuan penciptanya.
    Saat ini, banyak manusia yang selalu memimpikan untuk memiliki kekuatan luar biasa. Mereka tidak menyadari bahwa tubuh manusia adalah sebuah mesin yang luar biasa dan dapat melakukan pekerjaan yang menakjubkan. Oleh karena itu, kita sebagai manusia harus membuktikan dengan seluruh organ tubuh yang diciptakan oleh Allah Swt dengan selalu mensyukurinya.

 

Allah SWT lebih memberikan kemuliaan kepada orang yang sabar. Orang-orang yang sabar akan berada di dekat-Nya, berada dalam barisan yg terdepan dalam memasuki surga.

Tingkat-tingkatanan kebaikan respon seseorang terhadap cobaan atau ujian hidup:
1. Sabar. Menerima semua ujian dengan sabar. Setingkat lebih baik adalah:
2. Ikhlas. Tidak hanya sabar, tapi juga ikhlas menerima ujian. Yang tertinggi adalah:
3. Syukur. Tidak hanya sabar dan ikhlas, tapi menyukuri kebaikan dan kasih sayang Allah atas segala cobaan yang dhadapinya. Dia haqqul yakin bahwa apapun yang diberikan Allah kepadanya adalah yang terbaik baginya dan semuanya.

Sabar dan Syukur merupakan Kecerdasan Pribadi, sedangkan Taqwa, Tawakal, dan Ikhlas adalah kecerdasan Spiritual. Sedang yang jarang diberikan adalah Kecerdasan Sosial, yakni Berpikir positip, Persaudaraan dan Amanah.